Selasa, 08 Oktober 2013

Anemia Defisiensi Besi

 

1.      Definisi
Anemia defisiensi besi adalah anemia yang disebabkan oleh kurangnya persediaan besi untk eritropoiesis, karena cadangan besi kosong (depleted iron store) sehngga pembentukan hemoglobin berkurang.
2.      Epidemiologi
Anemia ini merupakan anemia yang paling sering dijumpai di negara berkembang. Martoatmojo et al memperkirakan prevalensi ADB di Indonesia adalah 16-50% pada laki-laki, 25-84% pada perempuan tidak hamil, dan 46-92% pada perempuan hamil.
3.      Etiologi
Anemia defisiensi besi secara umum dapat disebabkan oleh kekurangan asupan besi, gangguan penyerapan besi, serta kehilangan besi akibat penyakit tertentu. Penyebab spesifik yang terkait dengan 3 proses diatas adalah:
  • Perdarahan menahun misalnya tukak peptic, menoragi, hematuria, hemoptisis, infeksi cacing tambang
  • Kurangnya jumlah besi dalam makanan
  • Peningkatan kebutuhan besi yang tidak sesuai dengan asupan
  • Gangguan absorbsi besi
4.      Patogenesis
Anemia defisiensi besi melalui beberapa fase patologis yaitu:
·         Deplesi besi
Deplesi besi merupakan tahapan awal dari ADB. Berbagai proses patologis yang menyebabkan kurangnya besi memacu tubuh untuk menyesuaikan diri yaitu dengan meningkatkan absorbsi besi dari usus. Pada tahapan ini tanda yang ditemui adalah penurunan ferritin serum dan besi dalam sumsum tulang berkurang.
·         Eritropoesis defisiensi besi
Kekurangan besi yang terus berlangsung menyebabkan besi untuk eritropoiesis berkurang namun namun secara klinis anemia belum terjadi, kondisi ini dinamakan eritropoiesis defisiensi besi. Tanda-tanda yang ditemui pada fase ini adalah peningkatan kadar protoporhyrin dalam eritrosit, penurununan saturasi transferin, dan peningkatan Total iron binding capacity (TIBC).
·         Anemia defisiensi besi
Jika jumlah besi terus menurun maka eritropoiesis akan terus terganggu dan kadar hemoglobin mulai menurun sehingga terjadi anemia hipokromik mikrositik. Kondisi ini sudah bisa dikategorikan sebagai anemia defisiensi besi
Anemia defisiensi besi memberikan dampak kesehatan yang cukup banyak kepada seseorang misalnya gangguan sistem neuromuscular, gangguan kognitif, gangguan imunitas, dan gangguan terhadap janin.
5.      Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis anemia defisiensi besi dapat dikategorikan menjadi 2 yaitu gejala langsung anemia (anemic syndrome) dan gejala khas defisiensi besi. Gejala yang termasuk dalam anemic syndrome terjadi ketika kadar hemoglobin turun dibawah 7-8 mg/dL berupa lemah, cepat lelah, mata berkunang-kunang, dan telinga berdenging. Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan konjungtiva pasien pucat. Gejala khas yang muncul akibat defisiensi besi antara lain koilonychia (kuku sendok), atrofi papil lidah, cheilosis (Stomatitis angularis), disfagia, atrofi mukosa gaster, dan Pica (Keinginan untuk memakan tanah).
Selain gejala-gejala tersebut jika anemia disebabkan oleh penyakit tertentu maka gejala penyakit yang mendasarinya juga akan muncul misalnya infeksi cacing tambang menyebabkan gejala dyspepsia atau kanker kolon menyebabkan hematoskezia.
6.      Diagnosis
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan tanda vital untuk melihat kondisi umum yang mungkin menjadi penyebab utama yang mempengaruhi kondisi pasien atau efek anemia terhadap kondisi umum pasien. Pemeriksaan fisik ditujukan untuk menemukan berbagai kondisi klinis manifestasi kekurangan besi dan sindroma anemic.
Pemeriksaan laboratorium
Jenis Pemeriksaan
Nilai
Hemoglobin
Kadar Hb biasanya menurun disbanding nilai normal berdasarkan jenis kelamin pasien
MCV
Menurun (anemia mikrositik)
MCH
Menurun (anemia hipokrom)
Morfologi
Terkadang dapat ditemukan ring cell atau pencil cell
Ferritin
Ferritin mengikat Fe bebas dan berkamulasi dalam sistem RE sehingga kadar Ferritin secara tidak langsung menggambarkan konsentrasi kadar Fe.  Standar kadar normal ferritin pada tiap center kesehatan berbeda-beda. Kadar ferritin serum normal tidak menyingkirkan kemungkinan defisiensi besi namun kadar ferritin >100 mg/L memastikan tidak adanya anemia defisiensi besi
TIBC
Total Iron Binding Capacity biasanya akan meningkat >350 mg/L (normal: 300-360 mg/L )
Saturasi transferin
Saturasi transferin bisanya menurun <18% (normal: 25-50%)
Pulasan sel sumsum tulang
Dapat ditemukan hyperplasia normoblastik ringan sampai sedang dengan normoblas kecil. Pulasan besi dapat menunjukkan butir hemosiderin (cadangan besi) negatif. Sel-sel sideroblas yang merupakan sel blas dengan granula ferritin biasanya negatif. Kadar sideroblas ini adalah Gold standar untuk menentukan anemia defisiensi besi, namun pemeriksaan kadar ferritin lebih sering digunakan.
Pemeriksaan penyait dasar
Berbagai kondisi yang mungkin menyebabkan anemia juga diperiksa, misalnya pemeriksaan feces untuk menemukan telur cacing tambang, pemeriksaan darah samar, endoskopi, dan lainnya.
Kriteria diagnosis
Diagnosis anemia defisiensi besi meliputi bukti-bukti anemia, bukti defisiensi besi, dan menentukan penyebabnya. Menentukan adanya anemia dapat dilakukan secara sederhana dengan pemeriksaan hemoglobin. Untuk pemeriksaan yang lebih seksama bukti anemia dan bukti defisiensi besi dapat dilakukan kriteria modifikasi Kerlin yaitu:
Kriteria
Utama
anemia mikrositik hipokromik pada hapusan darah tepi
MCV <80 fL dan MCHC <31%

Kriteria Tambahan
Parameter laboratorium khusus: Kadar Fe serum <50 mg/L, TIBC >350 mg/L, saturasi transferin <15%*
Ferritin serum <20 mg/L
Pulasan sumsum tulang menunjukkan butir hemosiderin negatif
Dengan pemerian sulfas ferrosus 3 x 200 mg/hari atau preparat besi lain yang setara selama 4 minggu tidak disertai dengan kenaikan kadar hemoglobin >2g/dL
*Dihitung 1 poin jika 2 dari 3 paramater lab tersebut positif
Anemia defisieni besi dapat ditegakkan dengan 1 kriteria utama ditambah 1 kriteria tambahan tersebut.
Setelah diagnosis anemia defisiensi besi terpenuhi langkah berikutnya adalah menentukan penyebab spesifiknya.
Diagnosis Diferensial
Diagnosis diferensial utama dari anemia defisiensi besi yang mikrostik hipokromik adalah thallasaemia, penyakit inflamasi kronik, dan sindroma mielodisplastik. Perbedaan dari kondisi-kondisi tersebut antara lain:
Parameter
Anemia defisiensi besi
Thallasaemia
Inflamasi kronik
Sindroma mielodisplastik
Klinis
Sindroma anemia, tanda-tanda defisiensi besi
Sindroma anemia, hepatomegali, overload besi
Sindroma anemia jelas/tidak, gejala sistemik lain
Sindroma anemia
Blood smear
Micro/hypo
Normal, micro/hypo
Micro/hypo, target cell
Micro/hypo
TIBC
Meningkat
Menurun
Normal
-
Ferritin
Menurun
Normal
Normal
Normal/meningkat
Transferin
Menurun
Normal
Normal/Meningkat
-
Tatalaksana
Tatalaksana dari anemia defisiensi besi meliputi tatalaksana kausa penyebab anemia dan pemberian preparat pengganti besi (Iron replacement therapy)
·         Tatalaksana kausa
Merupakan terapi terhadap kondisi yang menyebabkan anemia misalnya memberikan obat cacing pada pasien dengan infeksi cacing atau pembedahan pada pasien hemmoroid.
·         Iron replacement therapy
Tujuan dari terapi ini adalah mengkoreksi nilai hemoglobin dan juga mengisi cadangan besi tubuh secara permanen. Besi yang diberikan dapat melalui pemerian oral atau pemberian parenteral.
·         Suplemen besi oral
Suplemen besi oral merupakan salah satu pilihan yang baik untuk mengganti defisiensi besi karena harganya yang relatif murah dan mudah didapat. Terdapar berbagai sediaan preparat besi oral seperti ferrous sulfas, ferrous fumarat, ferrous lactate, dan lainnya namun demikian ferrous sulfat merupakan pilihan utama karena murah dan cukup efektif.
Suplemen besi oral ini diberikan dengan dosis 300 mg/hari yang dapat dibagikan menjadi beberapa kali makan. Dengan dosis suplementasi tersebut diharapkan terserap 50 mg/hari karena besi memang diserap dalam jumlah yang tidak banyak oleh sistem pencernaan manusia. Besi yang diserap akan digunakan langsung untuk eritropoiesis, hasilnya di hari ke 4-7 biasanya eritropoesis telah jauh meningkat dan memuncak pada hari 8-12 setelah terapi dimulai. Setelah terjadi penyerapan besi dalam jumlah besar di awal terapi tubuh akan merespon dengan penurunan eritropoetin sehingga penyerapan di besi di usus dikurangi, akibatnya kadar penyerapan tidak lagi sebesar sebelumnya. Tujuan yang juga akan dicapai dari terapi ini adalah mengisi cadangan besi tubuh sebanyak 0,5-1 g besi karena itu suplementasi ini diberikan selama 6-12 bulan untuk mengatasi asorbsi usus yang telah menurun.
Edukasi kepada pasien tentang suplementasi besi merupakan salah satu kewajiban dokter. Pasien diberikan informasi bahwa sebaiknya suplemen tersebut dikonsumsi sebelum pasien makan karena akan meningkatkan absorbsinya. Efek samping obat ini yaitu gangguan gastrointestinal juga perlu diberitahukan kepada pasien. Penyebab kegagalan terapi besi oral antara lain gangguan absorbsi dan kepatuhan minum obat pasien yang rendah. Jika defisiensi besi masih belum juga tertangani dengan langkah-langkah tersebut dipikirkan untuk memberikan terapi besi parenteral.


·         Terapi besi parenteral
Alur terapi ini sangat efektif karena tidak melalui sistem pencernaan dan menghadapi masalah absorbsi, namun demikian risikonya lebih besar dan harganya lebih mahal oleh karena itu hanya diindikasikan untuk kondisi tertentu saja misalnya kepatuhan pasien yang sangat rendah. Preparat yang tersedia untuk terapi ini misalnya Iron dextran complex (50 mg/mL).  Pemberian terapi parenteral adalah melalui IV atau IM.  Kebutuhan besi seseorang dapat dihitung dengan persamaan


DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, S., 2001. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : Gramedia
Harrison., 2007. Principle of Interna Medicine. Mc-Graw Hill
Hoffbrand, A.V., Petit, J. E., Moss, P. A. H., 2005. Kapita Selekta Hematology. EGC: Jakarta
Sudoyo, A., 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam edisi 4 Jilid II. Pustaka IPD FKUI
Sudoyo, A., 2010. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam edisi 5. Pustaka IPD FKUI: Jakarta
Weiss, Guenter  & Goodnough, Lawrence T . Anemia of Chronic Disease, The new england           journalofmedicine. n engl j med 352;10

Jumat, 04 Oktober 2013

Motivasi Perjuangan Perawat Indonesia,


PPNI Pusat telah mulai menabuh genderang perjuangan untuk memanggil seluruh Insan Keperawatan Indonesia utk berkontribusi maksimal dalam upaya memacu proses pengesahan RUU Keperawatan. Semua lobby-lobby dan pendekatan ilmiah tdk akan banyak berarti lagi sekarang tanpa adanya pergolakan dimasyarakat, ‘Civil Movement’. Hal ini dikarenakan jelas-jelas Kemenkes tidak rela jika profesi perawat memiliki UU yg mandiri. Mereka masih ingin ‘memerah susu’ dari profesi perawat ini.

Namun dilain sisi, adanya beberapa event-event nasional membuat perjuangan ini sedikit lebih berat. Adanya libur Iedul Fitri akan sedikit melumpuhkan gerakan kita di awal-awal bulan agustus. Selain itu, adanya Pemilu Legislatif awal tahun depan juga akan mempersempit time frame yg kita miliki utk mendorong DPR mensahkan RUUK ini.
Berikut adalah beberapa usulan strategi penyikapan RUU Keperawatan:

1.) Poster Kaleng ttg ajakan melakukan Mogok Nasional (Monas) keseluruh lapisan perawat di tanah air. Ini adalah momentum awalan kita mempublikasikan isu Monas ke internal perawat. Targetnya adalah adanya perhatian yg lebih dr seluruh perawat terlepas dari pro-kontra yg akan timbul. Poster ini disebar keseluruh komisariat. Tdk dijelaskan dalam poster tsb kapan dan bagaimana aksi Monas ini akan dilakukan. Yang diangkat dlm poster tsb adalah kesulitan-kesulitan ataupun hambatan dalam bekerja seperti kasus kekerasan atau rumitnya pembuatan STR.

2.) Konsolidasi antar level PPNI. Dilakukan konsolidasi internal PPNI perprovinsi utk menyamakan persepsi terhadap perkembangan terakhir RUUK ini. Diharapkan PPNI Pusat bersedia meng-agendakan kunjungan ke beberapa provinsi.

3.) Seminar Kontemporer. Diselenggarakan seminar kontemporer untuk membahas pro-kontra aksi Monas. Memang ini sangat riski karena bisa jadi akan lebih menimbulkan kontroversi di kalangan internal perawat sendiri. Tapi isu ini akan diharapkan mampu menarik perhatian yg lebih besar dari seluruh Insan Keperawatan. Untuk DKI Jakarta diharapkan mampu mengadakan seminar dalam skala besar dg mengundang tokoh nasional seperti Jusuf Kalla atau Capres lainya.

4.) Aksi Pertama. Sebaiknya aksi ini dilakukan oleh gerakan mahasiswa sebagai sebuah gerakan moral menuntut ketidak adilan yg dilakukan oleh Kemenkes. Dalam aksi ini harus dapat dilakukan auidensi serta advokasi dg Kemenkes meminta penjelasan terhadap ‘upaya’ kemenkes menghancurkan tatanan pendidikan profesional yg tertuang dlm naskah awal RUUK. Target utama dari aksi ini adalah memberikan sedikit shock terapi ke Kemenkes sekaligus mencoba menarik atensi media. Diperkirakan aksi ini dilakukan seminggu sebelum raker DPR tgl 28 agustus.

5.) Aksi Kedua. Aksi ini adalah lanjutan usaha utk terus meminta media mengawal isu ketidak adilan terhadap perawat. Lupakan isu kesejahteraan ataupun praktek mandiri yg tertuang dlm naskah RUUK. Dalam aksi ini kita coba mengangkat isu-isu riil dilapangan yg sedikit merugikan perawat seperti rumitnya proses STR ataupun kekerasan hukum yg terjadi bg perawat di daerah terpencil. Selain itu, aksi ini adalah untuk memperbaharui kontrak politik dg para Anggota Komisi IX. Kita akan meminta mereka menandatangani kontrak politik dg komunitas perawat Indonesia utk menagih janji mereka agar benar-benar memperjuangkan masa depan perawat. Rekan-rekan didaerah juga dpt membantu utk melakukan aksi di kantor DPP Dapil masing-masing anggota Komisi IX tsb. Lagi-lagi tdk banyak yg kita harapkan dalam aksi ini selain untuk terus mempertahankan atensi media dan memberikan pressure ke DPR/Kemenkes. Aksi ini harus dilakukan pada tanggal 28 agustus.

6.) Aksi Ketiga. Dilakukan pada sidang ketiga pembahasan DIM oleh DPR-Kemenkes. Kita akan terus memaksa mereka meneruskan RUUK ini ke tahap sidang berikutnya yaitu Paripurna DPR. Saat inilah kita mulai mensounding isu Mogok Nasional Perawat jika tdk disetujui oleh Komisi IX dan Kemenkes. Diperkirakan aksi ini akan dilakukan akhir september.

7.) Aksi Keempat. Yaitu pada sidang terakhir Komisi IX utk memutuskan apakah RUUK ini akan dilanjutkan ke paripurna atau tidak. Pada tahap ini kita akan mulai melakukan aksi “Indonesia 1 jam tanpa perawat”. Lagi-lagi untuk terus melakukan pressure thdp Komisi IX untuk mengambil keputusan yg memihak thdp prosei perawat. Permulaan aksi Monas 1 jam ini dimulai dan diakhiri oleh koordinator lapangan aksi di gedung DPR utk menunjukan solidnya gerakan ini.

8.) Aksi terakhir. Yaitu aksi pada Sidang Paripurna DPR untuk menuntut disahkanya RUUK sekarang juga. Kita mengerahkan massa yg massif di gedung DPR sekaligus meningkatkan eskalasi Monas dari 2 jam, 4 jam atau bahkan ‘Indonesia One day without nursing’. Ini adalah strategi terakhir. Kita harus berikan semua yg kita miliki pada saat ini atau bersiplah kita untuk terus bermimpi memiliki UU Keperawatan yg mandiri. Diperkirakan aksi ini akan terjadi pada akhir Oktober.

Usulan-usulan diatas hanyalah sedikit pemikiran utk menggambarkan proses penyikapan RUUK yg benar-benar dalam tahap yg kritis. Kedepanya akan sangat dibutuhkan penajaman ataupun bahkan modofikasi sesuai perkembangan dilapangan.

NB: Bisa jd dg dimuatnya ide ini diforum ini akan mngakibatkn ‘bocornya’ strategi ini ketangan DPR. Tetapi, proses pencerdasan yg komprehensif keseluruh lapisan perawat seluruh nusantara adalah lebih penting demi suksesnya perjuangan kita bersama. Saran dan masukan rekan-rekan sekalian akan sangat ditunggu