Sabtu, 16 Maret 2013

Contoh SAP Penyuluhan



PENYULUHAN KESEHATAN
DEPARTEMEN SURGIKAL
DI RUANG  TERATAI RS PARU BATU MALANG
“ TETANUS “


Oleh :
,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
,,,,,,,,,,,,,,,,,,
………………………

PROMOSI KESEHATAN RUMAH SAKIT
MALANG
2013

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Topik                           : Tetanus
Sasaran                        : Keluarga Klien di Ruang Teratai
Tempat                        : Ruang Teratai . Paru Batu – Malang
Hari – Tanggal            : Rabu / 13 Maret 2013

I. TUJUAN INTRUKSIONAL UMUM (TIU)
Setelah mengikuti penyuluahan, keluarga dapat memahami tentang Tetanus
II. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS (TIK)
 Setelah mengikuti penyuluhan diharapkan :
v  Keluarga dapat mengetahui tentang Tetanus
v  Keluarga dapat mengetahui penyebab Tetanus
v  Keluarga dapat mengetahui tanda dan gejala
v  Keluarga dapat mengetahui komplikasi Tetanus
v  Keluarga dapat mengetahui penatalaksanaan Tetanus

III. SASARAN
 Keluarga pasien yang berada di ruang Teratai

IV. MATERI
        1. Definisi
        2. Penyebab
        3. Tanda dan Gejala
        4. Komplikasi
        5. Penatalaksanaan
      
V. METODE
v  Ceramah
v  Diskusi / Tanya Jawab
VI. MEDIA
v  Banner
v  Flip Chart
VII. EVALUASI
1. Evaluasi struktur
v  Peserta hadir di tempat penyuluhan
v  Penyelenggaraan penyuluhan diruang Teratai RS. Paru Batu – Malang .
v  Pengorganisasian penyelenggaraan dilakukan setelah peserta penyuluhan diseleksi.
2.  Evalusai proses
v  Peserta antusias terhadap materi penyuluhan
v  Peserta mengikuti jalannya penyuluhan sampai selesai
v  Peserta mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan secara benar
3.  Evaluasi Hasil
v  Keluarga mengetahui tentang Definisi Tetanus
v  Keluarga mengetahui tentang penyebab Tetanus
v  Keluarga dapat mengetahui tentang tanda dan gejala Tetanus
v  Keluarga mengerti dan mengetahui komplikasi Tetanus
v  Keluarga  mengetahui penatalaksanaan Tetanus


VII . KEGIATAN PENYULUHAN
NO
WAKTU
KEGIATAN PENYULUHAN
KEGIATAAN PESERTA
1
2
Menit
Pembukaan :
v    Membuka/ memulai kegiatan dengan mengucapkan salam
v    Memperkenalkan diri
v    Menjelaskan tujuan dari penyuluhan
v    Menyebutkan materi penyuluhan
v    Bertanya kepada peserta apakah sudah mengerti tentang Tetanus





Ø  Menjawab salam

Ø  Mendengarkan
Ø  Mendengarkan
Ø  Mendengarkan & Memperhatikan
Ø  Menjawab pertanyaan
2.
15
Menit
Pelaksanaan :
v    Menjelaskan tentang pengertian Tetanus
v    Menjelaskan tentang penyebab
v    Menjelaskan tanda dan gejala, penanganan, penatalaksanaan, komplikasi
v    Memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya






Ø  Mendengarkan

Ø  Mendengarkan

Ø  Mendengarkan


Ø  Mengajukan pertanyaan





3
10
Menit
Evaluasi :
v    Menanyakan kepada peserta tentang materi yang telah diberikan dan reinforcement peserta kepada peserta yang dapat menjawab
v    Menyakan kembali apakah ada peserta yang kurang jelas mengenai isi penyuluhan


Ø  Menjawab
Pertanyaan


Ø  Menjawab
pertanyaan
4
3
Menit
Terminasi :
v    Mengucapkan terima kasih atas peran sertanya
v    Mengucapkan salam penutup

Ø  Mendengarkan

Ø  Menjawab salam






MATERI PENYULUHAN
TETANUS
I. Latar Belakang
            Tetanus merupakan penyakit yang sering ditemukan,dimana masih terjadi di masyarakat terutama masyarakat kelas menengah ke bawah. Tetanus merupakan penyakit yang akut dan seringkali fatal, penyakit ini disebabkan oleh eksotoksin yuang dihasilkan oleh Clostridium tetani. Kata tetanus berasal dari bahasa Yunani tetanos, yang diambil dari kata teinein yang berarti teregang. Tetanus dikarakteristikan dengan kekakuan umum dan kejang kompulsif pada otot-otot rangka. Kekakuan otot biasanya dimulai pada rahang ( lockjaw ) dan leher dan kemudian menjadi umum. Penyakit ini merupakan penyakit yang serius namun dapat dicegah kejadiannya pada manusia.
            Penyakit ini tersebar di seluruh dunia, terutama pada daerah resiko tinggi dengan cakupan imunisasi DPT yang rendah.
            Reservoir utama kuman ini adalah tanah yang mengandung kotoran ternak sehingga resiko penyakit ini di daerah peternakan sangat tinggi. Spora kuman Clostridium tetani yang tahan kering dapat bertebaran di mana-mana.
            Di RSU Dr. Soetomo sebagian besar pasien tetanus berusia > 3 tahun dan < 1 minggu. Dari seringnya kasus tetanus serta kegawatan yang ditimbulkan, maka sebagai seorang perawat atau bidan dituntut untuk mampu mengenali tanda kegawatan dan mampu memberikan asuhan keperawatan yang tepat.

II. TETANUS
A. Definisi
            Tetanus adalah penyakit dengan tanda utama kekakuan otot (spasme) tanpa disertai gangguan kesadaran.
            Gejala ini bukan disebabkan oleh kuman clostridium tetani, tetapi akibat toksin (tetanospasmin) yang dihasilkan kuman.


B. Etiologi
            Bakteri an-aerob Clostridium tetani. Spora dari Clostridium tetani dapat hidup selama bertahun-tahun di dalam tanah dan kotoran hewan. Jika bakteri tetanus masuk ke dalam tubuh manusia, bisa terjadi infeksi baik pada luka yang dalam maupun luka yang dangkal. Setelah proses persalinan, bisa terjadi infeksi pada rahim ibu dan pusar bayi yang baru lahir (tetanus neonatorum). Yang menyebabkan timbulnya gejala-gejala infeksi adalah racun yang dihasilkan oleh bakteri, bukan bakterinya.)

C. Gejala
  1. Gejala-gejala biasanya muncul dalam waktu 5-10 hari setelah terinfeksi, tetapi bisa juga timbul dalam waktu 2 hari atau 50 hari setelah terinfeksi.Gejala yang paling sering ditemukan adalah kekakuan rahang.
  2. Gejala lainnya berupa gelisah, gangguan menelan, sakit kepala, demam, nyeri tenggorokan, menggigil, kejang otot dan kaku kuduk, lengan serta tungkai.
  3. Penderita bisa mengalami kesulitan dalam membuka rahangnya (trismus).
  4. Kejang pada otot-otot wajah menyebabkan ekspresi penderita seperti menyeringai dengan kedua alis yang terangkat.
  5. Kekakuan atau kejang otot-otot perut, leher dan punggung bisa menyebabkan kepala dan tumit penderita tertarik ke belakang sedangkan badannya melengkung ke depan.
  6. Kejang pada otot sfingter perut bagian bawah bisa menyebabkan sembelit dan tertahannya air kemih.
  7. Gangguan-gangguan yang ringan, seperti suara berisik, aliran angin atau goncangan, bisa memicu kekejangan otot yang disertai nyeri dan keringat yang berlebihan.
            Selama kejang seluruh tubuh terjadi, penderita tidak dapat berbicara karena otot dadanya kaku atau terjadi kejang tenggorokan. Hal tersebut juga menyebabkan gangguan pernafasan sehingga terjadi kekurangan oksigen.Biasanya tidak terjadi demam.
Laju pernafaan dan denyut jantung serta refleks-refleks biasanya meningkat.Tetanus juga bisa terbatas pada sekelompok otot di sekitar luka. Kejang di sekitar luka ini bisa menetap selama beberapa minggu.
D. Komplikasi
  1. Kematian (sudden cardiac death)
Kasus fatal sering terjadi terutamanya pada pasien yang berusia lebih dari 60 tahun (18%) dan pasien yang tidak mendapat vaksinasi (22%). Kematian sering diakibatkan oleh adanya produksi katekolamin yang berlebihan dan adanya efek langsung tetanospasmin atau tetanolisin pada miokardium.
  1. Obstruksi jalan napas
Pasien tetanus sering merasa nyeri hebat waktu mengalami kejang (spasme) hingga terjadinya laringospasme (spasme pita suara) hingga menyebabkan obstruksi dan gangguan pada jalan napas.
  1. Fraktur
Fraktur pada tulang vertebra atau tulang panjang bisa terjadi karena kontraksi yang berlebih atau kejang yang kuat.
  1. Hiperaktifitas sistem saraf otonomik
Efek samping yang terjadi pada keadaan ini adalah dengan meningkatnya tekanan darah (hipertensi) dan denyut jantung yang tidak normal.
  1. Infeksi nosokomial
Infeksi nosokomial sering terjadi karena perawatan di rumah sakit yang lama.
  1. Infeksi sekunder
Infeksi sekunder dapat berupa sepsis akibat pemasangan kateter, hospital-acquired pneumonias dan ulkus dekubitus.


E. Penatalaksanaan Medis
Prinsip :
  1. Mengeliminasi bakteri dalam tubuh untuk mencegah pengeluaran tetanospasmin lebih lanjut
  2. Menetralisir tetanospasmin yang beredar bebas dalam sirkulasi (belum terikat dengan sistem saraf pusat)
  3. Meminimalisasi gejala yang timbul akibat ikatan tetanospasmin dengan sistem saraf pusat
Terapi umum :
1.      Semua pasien disarankan untuk menjalani perawatan di ruang ICU yang tenang supaya bisa dimonitor terus-menerus fungsi vitalnya. Pasien dengan tetanus tingkat II, III, IV sebaiknya dirawat di ruang khusus dengan peralatan intensif yang memadai serta perawat yang terlatih untuk memantau fungsi vital dan mengenali tanda aritmia. Hendaknya pasien berada di ruangan yang tenang dengan maksud untuk meminimalisasi stimulus yang dapat memicu terjadinya spasme.
2.      Berikan cairan infus D5 untuk mencegah dehidrasi dan hipoglikemi 
3.      Debridement luka. Semua luka harus dibersihkan. Jaringan nekrotik dan benda-benda asing harus dikeluarkan. Semua luka yang berpotensial harus didebridement, abses harus diinsisi dan didrainase. Selama dilakukannya manipulasi terhadap luka yang diduga menjadi sumber inkubasi tetanus ini, harus diberikan hTIG dan terapi antibiotika. Juga penting diberikan obat-obatan pengontrol spasme otot selama manipulasi luka. 
Terapi khusus :
Human Tetanus Imunoglobulin (hTIG 3000-6000 IU i.m) : untuk menetralisir tetanospasmin bebas. Antitoksin ini tidak mempuny6ai efek pada toksin yang telah terikat pada jaringan saraf pada susunan saraf pusat ataupun sistem otonom. Toksin bebas mungkin terdapat pada sekeliling luka tempat pertumbuhan C. tetani. Diberikan secepat mungkin setelah diagnosis klinis tetanus ditegakkan. Dosis efektif yang direkomendasikan adalah 3000-10.000 IT iv/im, dengan kadar puncak dalam darah dicapai dalam 48-72 jam. Sebagai pengobatan secara aktif 1500-3000 IU diinfiltrasikan pada sekeliling luka. Di Indonesia umumnya masih memakai Anti Tetanus Serum, termasuk juga di RSHS.
 
Antibiotik : untuk menghilangkan sumber tetanospasmin
DOC : Metronidazole 500 mg p.o tiap 6 jam atau 1gr tiap 12 jam selama 10-14 hari, aktif menghambat pertumbuhan bakteri anaerob dan protozoa.
Benzodiazepine : untuk meminimalisasi spasme otot dan rigiditas karena bersifat GABA enhancer.
Diazepam karena dapat mengurangi ansietas, menyebabkan sedasi dan relaksasi otot. Dosis pemberian berdasarkan derajat keparahan spasme otot. 
Pada orang dewasa :
Spasme ringan : 5-10 mg p.o tiap 4-6 jam
Spasme sedang : 5-10 mg i.v
Spasme berat : 50-100 mg dalam 500 ml D5, infuskan dengan kecepatan 10-15 mg/jam
Bila refrakter terhadap benzodiazepine, berikan neuromuscular blocking agents (vecuronium)
Tetanus Toxoid (Td 0,5 ml i.m) : untuk merangsang dibentuknya antibodi terhadap eksotoksin bakteri. Td ini merupakan suatu eksotoksin yang telah didetoksikasi dengan formaldehid dan diabsorbsi ke dalam garam aluminium. Antigen ini akan menginduksi produksi antibody yang melawan eksotoksin.
ß-adrenergik blocking agents (Labetolol 0,25-1 mg/menit melalui infus i.v setelah dititrasi) untuk mengontrol disfungsi otonom yang didominasi aktivitas simpatis, yakni menurunkan tekanan darah tanpa memperberat takikardi
Intubasi endotrakeal atau trakeostomi pada tetanus berat (stadium III-IV) untuk atasi gangguan napas. Hendaknya trakeostomi dilakukan pada pasien yang memerlukan intubasi lebih dari 10 hari, disamping itu trakeostomi juga direkomendasikan setelah onset kejang umum yang pertama.
Walaupun imunisasi aktif tidak 100% efektif mencegah tetanus, namun imunisasi tetanus telah memperlihatkan sebagai salah satu yang paling efektif sebagai pencegahan terhadap kejadian tetanus. Pemberian imunisasi dan penanganan luka yang baik diketahui merupakan komponen yang penting dalam mencegah penyakit ini. Pada pasien dengan tetanus, imunisasi aktif dengan Td harus mulai diberikan atau dilanjutkan sesegera mungkin setelah kondisi pasien stabil.











DAFTRAR HADIR PESERTA PENYULUHAN
DI RUANG TERATAI RSUD RSUD. PARU BATU  – MALANG
HARI/TANGGAL :………… / …………. 2013
Penyuluhan Tentang                        : TETANUS
Tempat                                   : Teratai
Hari/Tanggal                         :
Waktu                                                : Pukul 09:30 wib
NO
NAMA
ALAMAT
TANDA TANGAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
                                                                                                            Pembimbing Lahan

                                                                          (………………………)  


          
DAFTAR PUSTAKA
Farrar JJ, Yen LM, Cook T, Fairweather N, Binh N, Parry J, Parry CM. 2009. Tetamus. J Neurol, Neurosurg, and Psychia 69 (3): 292–301
Madigan MT, Martinko JM. 2006. Brock Biology of Microorganisms 11th ed. New Jersey : Pearson Education.Hal. 233-245
(en) Schiavo G, Benfenati F, Poulain B, Rossetto O, Polverino DLP, DasGupta BR, Montecucco C. 1992. Tetanus and botulinum-B neurotoxins block neurotransmitter release by proteolytic cleavage of synaptobrevin. Nature 359 (6398): 832–5.









LEMBAR PENGESAHAN

SATUAN ACARA PENYULUHAN
TENTANG
TETANUS

Oleh  :
PSIK UNITRI MALANG

Telah Disahkan
Pada Tanggal : ………………….




Mengetahui :




Pembimbing PKRS,







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar